Beranda Kab. Kayong Utara Terkait Hal Ini, Keberadaan PT KAP Mendapat Protes Warga Sai Paduan

Terkait Hal Ini, Keberadaan PT KAP Mendapat Protes Warga Sai Paduan

180
Kondisi pertumuan warga desa Sai Paduan sebagai bentuk protes dengan PT KAP di gedung serba guna Desa Sai Paduan.
KALBAR.KABARDAERAH.COM, KAYONG UTARA- Masyarakat Desa Sai Paduan, Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara (KKU) melakukan aksi protes terhadap perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Kalimantan Argo Pustaka (KAP).
Dalam pertemuan dengan pihak perusahaan yang dilaksanakan di gedung serba guna Desa Paduan, Rabu, (16/5/2018), banyak warga menyampaikan keluhan terhadap keberadaan PT KAP.
 
“Protes yang disampikan warga terhadap PT KAP tentang adanya keputusan Memorandum of Understanding (MoU) yang diduga dilakukan secara sepihak oleh pihak perusahaan itu sendiri yang dianggap merugikan pihak masyarakat, ” kata Aspan salah satu masyarakat Desa Paduan yang mengikuti pertemuan, kepada media ini, Kamis, (17/5/2018).
 
Selain itu, ia menambahkan ‎dalam pertemuan itu tadi, masyarakat juga disosialisasikan terkait penyerahan nomor rekening koperasi antara pihak perusahaan ke masyarakat.
 
“Sekaligus juga membahas hal lain yang berkaitan dengan kebun kemitraan,” ucapnya.
 
‎Ia menerangkan, awalnya mediasi sempat diwarnai aksi protes oleh masyarakat dengan adanya MoU sepihak tadi dan hutang pemilik kebun kemitraan kepada PT KAP yang dirasa cukup tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan kebun kelapa sawit lainnya yang berada di KKU.
 
“Belum lagi persoalan lainnya menimpa masyarakat seperti, di‎batasinya angkutan buah kelapa sawit menggunakan jalur air yang di kontrakkan kepada masyarakat sebagai penyedia jasa, dan ‎terkait angkutan kelapa sawit jalur sungai yang saat ini masyarakat dibatasi untuk jumlah kapalnya, dengan alasan biaya jasa angkutan yang disediakan masyarakat terlalu mahal,” cetusnya.‎
Kendati demikian, lanjutnya, malah fakta di lapangan perusahaan menggunakan jasa pihak ketiga yang bukan penduduk setempat untuk menyediakan transportasi kapal ponton sebagai alat pengangkut buah sawit.‎
‎Hal senada diungkapkan Ibrahim warga Desa Paduan lainnya. Ia menegaskan, jika masih belum ada  titik terang terkait sekian banyak persoalan antara masyarakat dengan PT KAP, maka masyarakat tidak mengizinkan untuk sementara waktu kapal ponton yang digunakan perusahaan beroprasi.‎
“Dengan syarat  jangan sampai buah tandan Sawit di kebun kemitraan tidak boleh ada yang busuk,” imbuhnya.‎
 
Sementara itu ketika diwawancara, beda halnya dengan pernyataan dari perwakilan PT KAP  Sapto. Ia mengatakan, perusahaan mengadepankan kerjasama saling menguntungkan kepada masyarakat.
 
“Dan terkait perbedaan harga dengan perusahaan sawit lainnya, ‎dikarenakan perbedaan kontur tanah,” kilahnya.‎
 
(Tom)