KALBAR.KABARDAERAH.COM, KETAPANG — Cargill OneKal, dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Ketapang melalui koordinasi bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan komunitas yang berkelanjutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kemitraan strategis bersama Save the Children Indonesia, Perkumpulan Ulin, dan Krealogi. Seluruh program dirancang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Ketapang 2025–2029 bertajuk Pembangunan Berkeadilan untuk Ketapang Maju dan Mandiri, sekaligus mendukung kerangka keberlanjutan global Cargill yang berfokus pada aspek Climate, Land & Water, dan People.
Program ini menjadi wujud sinergi antara sektor swasta dan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan yang inklusif. Bersama Bappeda Ketapang, Cargill menyelaraskan berbagai program pemberdayaan masyarakat dengan prioritas pembangunan daerah, meliputi penyediaan air bersih, pengembangan sumber daya manusia, penguatan ekonomi berkeadilan, ketahanan pangan, serta pelestarian lingkungan.
Secara keseluruhan, program tersebut telah menjangkau lebih dari 2.500 penerima manfaat langsung dan sekitar 30.000 penerima manfaat tidak langsung yang tersebar di 25 desa pada lima kecamatan, yakni Manis Mata, Air Upas, Marau, Jelai Hulu, dan Kendawangan.
Kepala Bappeda Kabupaten Ketapang, Harto, S.E., M.Si., mengapresiasi kemitraan Cargill sebagai bentuk kontribusi nyata dunia usaha dalam mendukung agenda pembangunan daerah.
Menurut Harto, koordinasi antara Cargill dan Pemerintah Kabupaten Ketapang yang turut melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah, seperti Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, memastikan setiap program berjalan secara terintegrasi, terukur, dan tepat sasaran.
“Keselarasan kontribusi Cargill sebagai mitra pembangunan daerah dengan RPJMD Ketapang 2025–2029 membuktikan bahwa sektor swasta dapat menjadi akselerator pembangunan ketika program dirancang bersama pemerintah daerah. Melalui koordinasi yang intensif, berbagai program berhasil diintegrasikan untuk mendukung prioritas pembangunan, mulai dari penyediaan air bersih hingga pelestarian lingkungan. Sinergi ini memastikan setiap intervensi berjalan efektif, efisien, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Harto.
Sementara itu, Manager Resilience Program Save the Children Indonesia, Benny Octavianus Giri, menjelaskan bahwa melalui Program RESILIENCE Fase II dengan dukungan pendanaan dari Cargill, pihaknya membangun infrastruktur air bersih dan sanitasi di Kabupaten Ketapang.
Menurut Benny, hingga 2027 program tersebut ditargetkan menjangkau 25 desa.
“Hingga tahun 2027, program ini ditargetkan menjangkau 25 desa,” katanya.
Saat ini, sembilan titik pengeboran air bersih sedang dalam proses pengerjaan. Selain itu, sebanyak 120 paket material pembangunan kloset dan septic tank telah didistribusikan ke lima desa guna mendukung terwujudnya komunitas Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan.
Save the Children Indonesia juga telah mengaktifkan tiga Youth Center dengan 53 persen pengurus merupakan perempuan, serta meluncurkan platform digital Siap Kerja Ketapang (SKK) yang menghubungkan pencari kerja muda dengan perusahaan lokal.
Di bidang penguatan ekonomi keluarga, dibentuk sebanyak 23 Kelompok Simpan Pinjam Berbasis Komunitas (Village Savings and Loan Association atau VSLA) yang beranggotakan sekitar 400 orang, dengan 82 persen di antaranya perempuan.
Kelompok tersebut berhasil menghimpun tabungan sebesar Rp233,9 juta dan menyalurkan pinjaman senilai Rp79 juta. Enam kelompok VSLA juga telah mengembangkan usaha hortikultura sebagai sumber pendapatan tambahan bagi anggotanya.
Pada sektor lingkungan, Manager Program Perkumpulan Ulin, Sugeng Santoso, mengatakan kemitraan bersama Cargill difokuskan pada penguatan ketahanan iklim dan pelestarian lingkungan di Kabupaten Ketapang.
Sebanyak 80 peserta dari 26 desa telah mengikuti pelatihan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Dalkarhutla), yang dilanjutkan dengan penyaluran tiga paket peralatan pemadam kebakaran.
“Pada peringatan Hari Bumi 2026, kami bersama masyarakat menanam 1.000 bibit pohon sengon, jabon, dan trembesi sebagai bagian dari upaya penghijauan sekaligus meningkatkan penyerapan karbon di wilayah operasional Cargill,” ujar Sugeng.
Selain itu, Perkumpulan Ulin juga mengembangkan program agroforestri kopi bersama 14 petani melalui sekolah lapang yang mencakup praktik budidaya pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), teknik panen, pengolahan pascapanen, hingga pembangunan Unit Pengelolaan Hasil (UPH) kopi.
Program Sekolah Lapang Pertanian Padi juga akan dilaksanakan di Kecamatan Kendawangan dan Jelai Hulu, disertai penerapan praktik permakultur di lahan pekarangan untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Sementara itu, Senior Project Coordinator Krealogi, Ahadiyah Adinia Rahmi, menyampaikan bahwa melalui kemitraan dengan Cargill, pihaknya mendukung pengembangan usaha kerajinan anyaman berbasis komunitas yang melibatkan 90 penganyam, mayoritas perempuan, di delapan desa yang tersebar di Kecamatan Manis Mata, Marau, Jelai Hulu, dan Kendawangan.
Program tersebut mencakup pelatihan manajemen usaha, pencatatan keuangan, kepemimpinan, strategi pemasaran, inovasi produk, hingga perluasan akses pasar.
“Hingga saat ini, sebanyak 57 peserta telah menyelesaikan pelatihan manajemen usaha dengan tingkat kepuasan rata-rata mencapai 8,5 dari 10, serta peningkatan pengetahuan rata-rata sebesar 35 persen,” kata Ahadiyah.
Ia menambahkan, para peserta juga berhasil mengembangkan berbagai produk baru yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar modern, seperti sarung ponsel, kotak perhiasan, tatakan gelas, dan sarung gelas.
Melalui strategi pemasaran yang lebih luas, produk anyaman asal Ketapang diharapkan mampu menembus pasar di luar daerah sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi perempuan di wilayah pedesaan.
(agh)

Discussion about this post