KALBAR KABARDAERAH.COM, KETAPANG – Dugaan kelalaian dalam penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat di Kabupaten Ketapang. Kali ini, Dapur SPPG Delta Pawan–Mulia Baru yang dikelola Yayasan Surya Gizi Lestari dengan mitra penyedia Hoki Rasa Catering diduga menyajikan sayur basi kepada ribuan peserta didik pada Rabu, 29 Juli 2026.
Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 2.104 peserta didik menerima makanan dari dapur tersebut. Keluhan bermunculan dari sejumlah sekolah. Siswa dan orang tua mengaku menu sayur yang diterima sudah masam dan mengeluarkan bau tidak sedap. Salah satu keluhan berasal dari SMP Agustinus Ketapang, di mana beberapa siswa memilih tidak menghabiskan makanan karena kondisi sayur yang diduga telah basi.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh beberapa guru di sekolah penerima manfaat. Mereka menyebut sayur yang diterima sudah berbau asam dan diduga tidak lagi layak dikonsumsi.
Keterangan senada disampaikan salah satu guru di RA Al-Ikhlas, yang menyatakan menu sayur yang diterima sekolahnya juga telah basi. Munculnya keluhan dari lebih dari satu sekolah memperkuat dugaan bahwa persoalan tersebut tidak terjadi di satu titik distribusi saja, melainkan perlu ditelusuri mulai dari proses pengolahan, penyimpanan hingga pendistribusian makanan dari Dapur SPPG Delta Pawan–Mulia Baru.
Temuan ini memunculkan pertanyaan serius mengenai sistem pengawasan mutu makanan sebelum didistribusikan kepada ribuan penerima manfaat. Program MBG yang bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah justru dipersoalkan karena kualitas makanan yang dinilai tidak layak konsumsi.
Dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut, Rahmat Agung Perdana selaku Kepala SPPG Delta Pawan–Mulia Baru mengaku akan melakukan pengecekan. Setelah dilakukan pemeriksaan internal, ia membenarkan adanya temuan tersebut.
“Setelah dicek memang benar ada sayur yang sudah basi,” ujarnya.
Rahmat juga mengakui ditemukan menu yang tidak sesuai dengan arahan terbaru Badan Gizi Nasional (BGN), yakni masih disertakannya susu kemasan dalam paket MBG.
Padahal, berdasarkan arahan operasional terbaru yang disampaikan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Trenggono, pada poin lima ditegaskan bahwa pengadaan susu kemasan bermerek untuk sementara dihentikan hingga ada kebijakan lebih lanjut.
Dalam arahan tersebut juga disebutkan Kepala SPPG hanya diperbolehkan meninggalkan pos untuk kepentingan koordinasi penting dengan kepala sekolah atau pihak terkait MBG.
Sementara pada poin enam ditegaskan bahwa BGN tidak akan segan menjatuhkan sanksi, termasuk skorsing terhadap Kepala SPPG maupun mitra yang melakukan kelalaian berat, sebagaimana evaluasi atas kasus dugaan keracunan makanan di Jember maupun temuan telur berlendir di Bekasi.
Saat diminta memberikan penjelasan lebih rinci mengenai aspek keamanan pangan, Rahmat meminta wartawan menghubungi ahli gizi. Namun ahli gizi yang dimaksud tidak berada di tempat, bahkan Rahmat tidak bersedia memberikan nomor kontak yang dapat dihubungi sehingga penjelasan teknis mengenai penyebab makanan menjadi basi belum diperoleh.
Secara terpisah, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Ketapang, Boby Nur Haliandi, membenarkan adanya laporan tersebut. Menurutnya, hasil koordinasi dengan Kepala SPPG juga memastikan adanya temuan sayur basi.
“Terkait ini sepertinya ahli gizi lebih paham. Saya sudah koordinasi dengan Kepala SPPG dan memang benar ada sayur basi,” kata Boby.
Kasus ini diperkirakan menjadi bahan evaluasi serius bagi Badan Gizi Nasional. Selain menyangkut kualitas makanan yang diterima peserta didik, temuan tersebut juga memunculkan dugaan lemahnya pengawasan terhadap pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi makanan, hingga kepatuhan terhadap standar operasional MBG yang telah ditetapkan BGN.
Publik kini menunggu langkah tegas Badan Gizi Nasional terhadap pengelola Dapur SPPG Delta Pawan–Mulia Baru, Yayasan Surya Gizi Lestari, maupun Hoki Rasa Catering apabila hasil pemeriksaan menyimpulkan adanya kelalaian yang menyebabkan makanan tidak layak konsumsi didistribusikan kepada 2.104 peserta didik.
(ri)

Discussion about this post