Beranda Kab. Ketapang Proyek Barau Timbun Di Desa Sukabangun Dalam Diduga Bermasalah

Proyek Barau Timbun Di Desa Sukabangun Dalam Diduga Bermasalah

384
Kondisi fisik proyek barau timbun yang terletak di dusun 01 Desa Sukabangun dalam, dimana terlihat dalam pekerjaannya diduga tidak memiliki plang proyek.

KALBAR.KABARDAERAH.COM, KETAPANG – Proyek Barau Timbun yang terletak di Dusun 01, RT 03/RW 01, Desa Sukabangun Dalam, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, diduga dalam pengerjaannya bermasalah.

Pasalnya, menurut tiga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari hasil investigasi mereka di lapangan terhadap pekerjaan 4 paket proyek yang menggunakan biaya dari APBD Ketapang tahun 2018 tersebut banyak menemukan kejanggalan dalam pengerjaannya.
 
“Kita menilai proyek tersebut terkesan proyek siluman, lantaran setelah kita cek ke lapangan 4 paket pekerjaan yang dikerjakan dalam satu lokasi itu tidak ada satupun memiliki papan plang proyek,” kata Suryadi Ketua LSM Peduli Kayong didampingi dua rekannya sesama profesi Drs Hikmat Siregar dari LSM Gasak dan Wito dari LSM LKPK, Selasa, (3/7/2018).

 

Tiga orang LSM dari sebelah kiri Suryadi, Wito, dan Hikmat Siregar yang melakukan investigasi ke lokasi pekerjaan terhadap 4 item proyek barau timbunan di lokasi yang sama yakni di Dusun 01, Desa Sukabangun Dalam.
Selain itu, ia mengungkapkan dari pantau mereka di lapangan, terhadap kualitas pekerjaan diduga tidak sesuai spek seperti pada umumnya pekerjaan barau timbunan.
 
“Dari pengakuan salah seorang warga setempat kepada kami, sebenarnya empat paket pekerjaan tadi diduga milik oknum legislator dari Partai Demokrat. Yang mana seharusnya dikerjakan di Dapil II namun dialihkan ke Dapil I,” jelas Suryadi yang diamini Hikmat Siregar dan Wito.

 

Bahan yang digunakan untuk barau yang diduga terlihat dalam kondisi tidak memenuhi standar.
Ditambahkan Hikmat Siregar, terhadap pekerjaan tadi diduga terkesan tidak tepat sasaran, lantaran menurutnya, dalam satu lokasi dikerjakan ada 4 item pekerjaan yang sama dengan saling berdekatan.
 
“Itukan sudah pemborosan anggaran namanya, toh masih banyak gang maupun RT lain di desa tersebut yang sangat memerlukan pekerjaan serupa,” tegas Hikmat.
 
(AgsH)